Ust. Aan: Shalat, Menjaga dari Maksiat hingga Penentu Nasib di Hari Kiamat
Catatan Kajian Tafsir #22 bersama Ustadz Fakhruddin Anshori, Lc.

Gresik – Shalat bukan sekadar ritual harian, melainkan tiang agama dan penentu nasib seorang hamba di Hari Kiamat. Hal ini ditekankan oleh Ustadz Fakhruddin Anshori, Lc. dalam kajian tafsir Surat Al-Alaq pada Selasa malam, 25 November 2025, setelah pekan sebelumnya tertunda karena hujan deras.
“Shalat itu dari awal sudah diperintahkan,” tegasnya. Berbeda dengan puasa Ramadan yang baru diwajibkan setelah 15 tahun kemudian. “Sepenting itu shalat ini, amalan yang bisa jadi patokan amalan-amalan lainnya nanti ketika dihisab,” jelasnya.
Ustadz Aan, demikian sapaan beliau, menegaskan shalat merupakan ibadah pertama yang akan dihisab pada hari kiamat. “Kalau salat kita baik, maka amal-amal lain akan ikut baik,” tandasnya. Seseorang yang menjaga shalat, khususnya berjamaah dan di awal waktu, akan lebih mudah menjaga perilaku dan menjauhi maksiat.
Beliau juga menggambarkan bagaimana shalat berjamaah pahalanya berlipat-lipat: “Satu shalat di masjid itu pahalanya 27 kali dibanding shalat sendiri. Empat rakaat di masjid itu setara 120 rakaat di rumah,” ujarnya. Perbandingan ini menunjukkan betapa besar kerugian orang yang menyepelekan shalat berjamaah.
Lebih jauh, Ustadz Aan menerangkan bahwa shalat berfungsi sebagai benteng diri. Allah memerintahkan kaum beriman untuk “menjadikan sabar dan shalat sebagai penolong”, yakni sarana untuk menghindarkan diri dari kemungkaran.
“Shalat itu sesungguhnya usaha menahan dari kekejian dan kemungkaran,” tuturnya. Namun, beliau mengingatkan bahwa shalat yang dapat menahan seseorang dari maksiat adalah shalat yang khusyuk—yang muncul dari hati yang yakin akan bertemu Allah dan kembali menghadap-Nya.
Khusyuk bukan hasil dari kefasihan bacaan semata, tetapi dari kesadaran spiritual yang mendalam. “Ini shalat saya, bekal saya untuk nanti ketemu Allah,” kata Ustadz Aan menirukan bisikan hati seorang mukmin yang sadar.
Beliau menegaskan bahwa orang yang khusyuk tidak akan berani melakukan pelanggaran meski berada di luar shalat. “Kalau ingat bahwa akan dimintai pertanggungjawaban, masa ya sempat korupsi?” ujarnya. Keyakinan akan hari pertemuan dengan Allah membuat seseorang menahan diri dari dosa besar maupun kecil, baik dalam pandangan maupun perbuatan.
“Kalau ingat bahwa kita akan ketemu Allah, kita pasti ingin shalat,” ungkapnya. Keyakinan inilah yang membuat shalat seseorang tidak hanya sah, tetapi berdampak pada sikap dan perilakunya di luar shalat.
Penulis: Iqbal Fathony R.
Simak video kajian selengkapnya di Channel PHR Gresik:
