Gathering PHR Gresik, Ustadz Dwi Ajak Jauhi Sifat Sombong

Gresik – Kelebihan utama yang diberikan Allah Subhanahu wata’ala kepada manusia dibanding seluruh makhluk, bahkan malaikat, adalah ilmu. Namun, keutamaan ini dapat gugur jika seseorang memiliki sifat sombong.
Pesan mendalam ini disampaikan Ustadz Dwi Agus Wahyudi, S.E., Ketua Umum Paguyuban Hapus Riba (PHR), dalam acara Gathering Pengurus dan Relawan PHR Gresik di Warung Makan Gratis, Kamis, 11 Desember 2025.
Dalam diskusi yang dimoderatori oleh Ihwan Jailani, S.Pd. selaku ketua PHR Gresik, Ustadz Dwi secara tegas mengingatkan pengurus dan relawan akan bahaya penyakit hati, khususnya sifat ke-Aku-an, yang beliau sebut sebagai ‘penyakit mematikan’ di tengah perjuangan dakwah PHR.
Ilmu Penyelamat Dunia dan Akhirat
Mengawali diskusi, da’i asal Kendal, Jawa Tengah ini mengajak hadirin merenungkan alam. Air yang bening dapat dipakai minum, mandi, dan mencuci, sedangkan air peceren atau air got akan diabaikan karena kehilangan fungsinya. Demikian pula pisang, yang dipuji dokter punya vitamin paling lengkap, akan disayang dan dimanfaatkan saat baik, tetapi pisang yang sudah busuk (bosok) akan dibuang.
“Manusia akan berharga, jauh lebih berharga dari malaikat, jika jenengan punya ilmu,” ujar beliau. Ada dua jenis ilmu: ilmu keduniawian (seperti hukum gravitasi, Newton, ilmu kimia, dll) yang hasilnya bisa menjadi pahala, tetapi juga bisa menjadi dosa atau kerusakan; dan Ilmu tentang Allah (ilmu akhirat), yang mencakup halal dan haram. Ilmu yang paling penting adalah ilmu tentang Allah, karena pasti menghasilkan pahala dan perbaikan di muka bumi.
Apabila manusia tidak berilmu, membuat kerusakan, dan tidak punya kelebihan, “derajate jenengan podo karo gedhang sing bosok, podo karo banyu sing keruh,” (derajat Anda sama seperti pisang yang busuk, sama seperti air yang keruh). Beliau menekankan manusia yang tidak bermanfaat akan diabaikan, bahkan dibuang, dan ketika dimasukkan neraka, tidak ada yang akan menangis karena dianggap tak berharga.
Virus Mematikan: Sifat Ke-Aku-an

Alumni Pondok Pesantren yang juga Sarjana Ekonomi ini, secara khusus mewanti-wanti jamaah agar menghindari penyakit “Aku”. Penyakit ini muncul ketika seseorang merasa: “Ini semua karena pekerjaanku! Ini semua karena kontribusiku! Ini semua karena ide-ideku!”. Sifat ini berlawanan dengan ketulusan (lillah) yang menjadi ciri khas PHR.
Penyakit ini amat berbahaya karena bisa menjadi virus yang merembet, mencari teman, dan akhirnya menciptakan kubu-kubu dalam tim. Beliau menceritakan penyakit ini pernah membuat PHR Gresik hancur, dan tim di Jogja, serta Jombang pecah.
Beliau menyerukan agar relawan mengganti ucapan “berkat Aku” dengan “Alhamdulillah ini kita bisa bekerja bersama, menghasilkan ini, menghasilkan itu, atas izin Allah”.
Petunjuk Menghadapi Pujian dan Cacian
Menanggapi pertanyaan dari Iqbal Fathony Ramadhan, salah satu pengurus yang menanyakan soal penghormatan atau pujian kepada seseorang, yang dikhawatirkan membuat sifat “Aku” membesar, Ustadz Dwi memberikan kunci: kembalikan semua pujian kepada Allah.
“Ciri khas orang yang Aku-nya membesar adalah jumawa saat dipuji dan marah luar biasa saat dikritik,” tambahnya.
Beliau mencontohkan, ketika dipuji, segera netralisir dengan mengucap: “hadza min fadhli rabbi” (Ini adalah karunia Rabbku). Pujian yang disambungkan ke Allah Ta’ala tidak akan menghasilkan sifat “Aku”.
Sementara itu, Ummu Syafa’atuddukhah, anggota Bidang Ekonomi dan Pengembangan SDM, menanyakan bagaimana bersikap saat dicaci maki atau disudutkan, Ustadz Dwi mengajak untuk melihat adanya hinaan dan cacian adalah kehendak Allah. Cacian keras hampir pasti didahului teguran lembut dari Allah yang tidak didengar.
Beliau menyarankan untuk tidak bersikap defense (mempertahankan diri), sebaiknya dengarkan pesannya, ambil yang baik untuk perbaikan diri, dan abaikan yang buruk.
Keutamaan bagi yang diam dan tidak membalas, dosa-dosanya dapat diambil oleh orang yang menghina. “Maka semakin mereka menghina, maka semakin bagus buat jenengan. Yang dibutuhkan hanya diam,” pungkas beliau.
Penulis: Iqbal Fathony Ramadhan Editor: Deby Lelyana, Yakup Indra
