Riyadhoh 40 Hari, Ikhtiar Mendapatkan Pertolongan Allah

BOJONEGORO – Umat Islam yang terjerat hutang dan riba, seperti ulat yang hidupnya hanya merusak daun. Namun, ada kesempatan berubah menjadi kupu-kupu, memberi manfaat lewat proses menempa diri (riyadhoh) selama 40 hari. Transformasi ini, kunci utama memantaskan diri menerima pertolongan Allah SWT, agar segera lunas hutang.

Hal tersebut disampaikan Ustadz Dwi Agus Wahyudi, S.E., pendiri Paguyuban Hapus Riba (PHR), dalam Kajian Hapus Riba yang digelar di Warung Sego Padang (Sepad) 88, Trucuk, Bojonegoro, Ahad (7/12/2025). Dalam kajian ketiga yang bertujuan menguatkan jamaah untuk hijrah dari riba ini, Ustadz Dwi menyoroti fenomena masyarakat yang suka berhutang mulai KPR, leasing, hingga pinjam aset kerabat untuk digadaikan, sebagai perilaku merusak layaknya ulat.

Uler atau ulat, di manapun dia berada, godhonge iku bolong. Ngerusak tok uripe. Jangan-jangan jenengan dino iki akeh sing koyok uler” (Ulat, di mana pun dia berada, daunnya pasti berlubang. Hidupnya hanya merusak. Jangan-jangan Anda hari ini banyak yang seperti ulat), ujar Ustadz murah senyum ini di hadapan para jamaah.

Menurut Ustadz Dwi, seorang Muslim harusnya menjadi manusia paling bermanfaat bagi orang lain (khairunnas anfauhum linnas). Gemar bersedekah, bukan gemar berhutang.  Beliau  menyentil kebiasaan meminjam BPKB atau sertifikat milik tetangga dan saudara, yang sering kali berakhir dengan ketidakmampuan bayar, sehingga menyusahkan orang lain.

Kabar gembiranya, karakter “ulat” yang gemar berhutang bisa berubah jadi “kupu-kupu” yang gemar bersedekah, jika mau masuk ke dalam “kepompong”. Fase “kepompong” ini diwujudkan dalam program bernama Riyadhoh Pendampingan Menuju Allah (PMA). Program  yang membantu jamaah agar bisa menjaga ibadah dan melaporkannya setiap hari, selama 40 hari.

“Riyadhoh ini jenengan tidak perlu ke mana-mana, tetap di rumah seperti biasa. Shalat tasbih setiap Jumat, setiap malam shalat tahajud, setiap pagi shalat dhuha, setiap hari baca Al-Quran 1 juz atau diganti Al-Fatihah 100 kali, baca shalawat 1.000 kali,” jelasnya merinci amalan riyadhoh tersebut.

Ustadz dengan empat anak ini menekankan, Allah mampu melunasi hutang sebesar apa pun, misalnya 500 juta rupiah dalam waktu singkat. Namun, masalahnya ada pada kelayakan kita di mata Allah. Beliau mengkritik keras orang yang minta pelunasan hutang besar, tapi meremehkan shalat.

Jenengan biasa shalat dhuhur jam berapa? Jam satu, jam dua? Iku lak podo karo wong diceluk, ayo sholat sujud nang Gusti Allah, ‘Mangke njih Gusti, sak jam dua jam maleh.’ Ngono kok njaluk 500 juta diparingi ngono piye?” (Anda biasa shalat Dhuhur jam berapa? Jam satu, jam dua (siang)? Itu sama saja seperti orang dipanggil, ayo shalat sujud ke Gusti Allah, ‘Nanti ya Gusti, satu jam dua jam lagi.’ Begitu kok minta dikasih 500 juta, bagaimana caranya?), sindir beliau.

Sebagai fondasi dari riyadhoh tersebut, Ustadz Dwi menekankan dua amalan pokok yang tidak bisa ditawar: shalat lima waktu berjamaah dan sedekah minimal 2,5 persen dari setiap rezeki yang diterima. Beliau mengingatkan bahwa tanpa pondasi ini, amalan atau ijazah do’a dari kiai manapun tidak akan ampuh (mandhi).

Melalui riyadhoh 40 hari ini, jamaah diharapkan benar-benar berubah total. “Insya Allah dengan itu, jenengan akan jadi orang yang baru, seperti ulat yang berubah menjadi kupu-kupu. Dari yang merusak menjadi bermanfaat,” pungkasnya.

Penulis: Iqbal Fathony R. Editor: Deby Lelyana